Rizky Ridho menjadi salah satu sorotan di dunia sepak bola Indonesia, khususnya bagi Persija Jakarta. Klub ini memang dikenal sebagai penghasil bek tangguh yang menjadi andalan Macan Kemayoran sekaligus Timnas Indonesia. Sejak kompetisi Galatama dan Perserikatan dilebur pada 1994, Persija seakan memiliki tradisi dalam mencetak serta mengorbitkan bek-bek tangguh yang menjadi tembok kokoh pertahanan mereka.
Kini, Rizky Ridho menjadi salah satu bek muda andalan Persija di era modern. Sejak bergabung, pemain berusia 24 tahun ini menunjukkan perkembangan pesat dalam permainannya. Kepercayaan yang diberikan kepadanya semakin besar, terbukti dengan penunjukannya sebagai kapten tim Persija di Liga 1 musim ini. Hal ini menjadi bukti atas kualitas, kepemimpinan, dan kemampuan yang ia miliki.
Dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya, Rizky Ridho menjadi aset berharga bagi Timnas Indonesia. Meski masih muda, kualitasnya sudah bisa disandingkan dengan pemain berpengalaman seperti Jay Idzes, yang bermain di Serie A bersama Venezia.
Namun, meski namanya semakin bersinar, Rizky Ridho tetap menunjukkan sikap rendah hati. Ia tidak ingin dibandingkan dengan pemain lain, termasuk Jay Idzes dan Jordi Amat, yang lebih senior dan memiliki pengalaman bermain di kompetisi Eropa seperti La Liga bersama Espanyol.
Tak dapat disangkal, Rizky Ridho merupakan bagian dari regenerasi bek-bek tangguh Persija yang juga memperkuat Timnas Indonesia. Nah berikut beberapa nama bek tangguh Timnas Indonesia asal Persija sebelum Rizky Ridho:
1. Nur Alim
Setelah sukses membawa Mastrans Bandung Raya meraih gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1995, Nur Alim segera bergabung dengan Persija Jakarta. Bek yang akrab disapa Jabrik ini bertahan di klub tersebut hingga musim 2002.
Selama enam musim membela Persija, Nur Alim menjadi pilar utama di lini belakang dan hampir selalu tampil sebagai pilihan utama. Kepergiannya pada 2002 memberikan dampak besar bagi tim. Pada musim berikutnya, Persija mengalami penurunan performa dan hanya mampu finis di peringkat ketujuh Wilayah Barat.
Sepanjang periode 1996–2003, Nur Alim juga menjadi andalan di lini pertahanan Timnas Indonesia. Ia mencatatkan 50 penampilan dalam berbagai kompetisi internasional yang diikuti oleh tim Garuda.
2. Warsidi
Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 45 tahun lalu, Warsidi merantau ke Jakarta untuk menimba ilmu di Diklat Ragunan pada periode 1997–1999. Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, ia langsung memulai karier profesionalnya dengan bergabung bersama Persita selama satu musim.
Penampilannya yang impresif membuatnya dijuluki wonderkid ketika bergabung dengan Persija di usia 21 tahun. Selama empat musim memperkuat Macan Kemayoran, Warsidi mencatatkan 52 penampilan. Pada periode 1999–2004, ia juga menjadi bagian dari Timnas Indonesia dan berduet dengan Nuralim di lini belakang, dengan total 22 caps.
3. Aris Indarto
Seperti halnya Warsidi, Aris Indarto juga bergabung dengan Persija pada usia 22 tahun setelah menyelesaikan pendidikan di Diklat Ragunan. Dalam kurun waktu satu dekade, yakni 2000–2010, bek kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 23 Februari 1978 ini sempat bolak-balik memperkuat Persija Jakarta dan Persik Kediri, yang dijuluki Macan Putih.
Aris menjadi bagian dari lini pertahanan Persija pada periode 2000–2005 dan 2008–2009. Sementara bersama Persik, pemain dengan tinggi 174 cm ini bermain pada musim 2005–2008 dan kembali memperkuat tim tersebut di musim 2009–2010.
Kariernya di Timnas Indonesia dimulai dari level U-18, kemudian U-23, hingga menembus tim senior pada tahun 2005. Meskipun hanya mencatatkan satu penampilan bersama skuad utama Garuda, Aris sempat merasakan arahan dari tiga pelatih berbeda, yakni Alfred Riedl, Bernard Schum, dan Peter White.
4. Maman Abdurahman
Maman Abdurrahman pantas disebut sebagai salah satu bek legendaris Persija Jakarta. Selama membela Macan Kemayoran dalam periode 2015–2024, ia tampil dalam 144 pertandingan dan berhasil mencetak dua gol.
Lahir di Jakarta pada 12 Mei 1982, Maman dengan penuh sportivitas memutuskan hengkang dari Persija untuk bergabung dengan PSPS di Liga 2 musim 2024/2025. Keputusan bijak ini diambil demi memberikan kesempatan bagi pemain muda seperti Hansamu Yama dan Rizki Ridho untuk berkembang dan menjadi andalan di masa depan.
Perjalanan Maman di Timnas Indonesia dimulai dari level U-23 selama dua tahun, sebelum akhirnya dipromosikan ke tim senior pada usia 22 tahun. Selama memperkuat skuat Garuda, ia mencatatkan 29 penampilan internasional.
5. Hamka Hamzah
Salah satu bek tengah tangguh yang pernah memperkuat Persija di masanya adalah Hamka Hamzah. Seperti halnya Warsidi dan Aris Indarto, ia bergabung dengan Macan Kemayoran saat berusia 21 tahun.
Karier Hamka di Persija juga memiliki kemiripan dengan Aris Indarto, yang kerap berpindah antara Persija dan Persik Kediri. Setelah bermain untuk Persik pada periode 2003–2005, pemain asal Makassar ini kemudian hijrah ke Persija dan membela klub tersebut pada 2005–2008. Namun, pada musim 2008–2009, ia kembali ke Persik sebelum akhirnya kembali lagi ke Persija. Sepanjang kariernya bersama kedua klub itu, Hamka mencatatkan total 62 penampilan.
Di level internasional, Hamka memulai kiprahnya dengan Timnas Indonesia U-21, di mana ia tampil dalam delapan pertandingan. Setelah itu, pada periode 2004–2014, ia menjadi bagian dari Timnas Indonesia senior dengan mencatatkan 31 caps.